Sunday, January 17, 2010
Kegiatan Castlemaine Secondary College, Victoria, Australia
http://www.csc.vic.edu.au/newsletters_&_events.html
Saturday, January 16, 2010
Ibu Simone Bassette di Tangsel 3
Oleh: Yuniati Purnomo, Koordinator Program SBI SMAN3 Tangerang Selatan
Hari ke 1,
Senin 11 Januari 2010
Ms Simone datang di Bandara Soekarno-Hatta Dijemput oleh Bpk. Suherman dkk, diantar ke "Guest house"
Hari ke 2,
08.00 Ms Simone dijemput
08.30 Ms Simone datang di SMAN 3 Tangerang Selatan disambut oleh Kepala Sekolah Bpk. Sujana dan Guru- guru, dan istirahat sebentar di Ruang Kepala Sekolah untuk bertemu dengan Bpk. Dedy Rafidi ( Dinas Pendidikan Tangsel)
09.00 Acara Terlampir
Ms. Simone menikmati sekali persembahan "Tarian Cokek", " Angklung" dan "Tarian Saman" bahkan Ms. Simone mencoba Angklung bersama siswa, Pada saat sesi "Tanya jawab" banyak pertanyaan dari siswa maupun dari kepala sekolah yang datang dan dijawab dengan senang hati
oleh Ms. Simone, Siswa kami juga menitipkan surat untuk siswa kelas X dan XI di CSC .Ms. Simone mengunjungi pelajaran Bahasa Indonesia yang saat itu membaca " puisi" ,beliaupun mencoba baca puisi , Ibu Heni sebagai gurunya.Selesai acara penyambutan dilanjutkan tour ke Taman Mini Indonesia Indah yang katanya beliau ingin ke TMII jika nanti berkunjung ke Indonesia, memang Ms. Simone sangat menikmati keindahan TMII sampai sore diteruskan acara " Makan Malam " di " Ocean Park " Kawasan BSD City Tangerang Selatan
Hari ke tiga
08.00 Saya ( Yuniati), Ibu Wiwin, Ibu Sri ke " Guest House" menjemput Ms. Simone dan temannya Ms.Michelle R untuk diantar ke Kebun Raya Bogor, dan mampir ke rumah kediaman Bpk Sujana untuk menaroh barang bawaan Ms. Simone dan Ms.Michelle yang selanjutnya bersama-sama ke "Kebun Raya "," Museum Zoology", "Museum Anggrek" dan " Istana Batu Tulis" dilanjutkan Makan siang di " Restaurant Gumati " khas masakan Sunda, pulangnya mampir membeli " Roti Unyil " sampai sore perjalanan kami.pulang ke rumah Bpk. Sujana. Malamnya Ms Simone dan Ms. Michelle bersama keluarga Bpk. Sujana menuju Puncak Pas di Bogor untuk makan malam di " Simpang Raya " dengan masakan khas Padang.Pulang jam 23.00, Istirahat .
Hari ke 4
04.30 dari Bogor diantar ke Terminal Bus Damri dengan tujuan " Bandara Soekarno Hatta", Ms Simone dan Ms. Michelle meneruskan perjalanan ke Kalimantan, Akhirnya kami Warga SMAN 3 Tangerang Selatan mengucapkan Selamat jalan sampai jumpa lagi untuk Ms. Simone dan Ms.Michelle.Waduh sedih rasanya pada saat perpisahan (YP.2010)
Thursday, January 7, 2010
Selamat Datang Ibu Simone Bassett

Friday, December 18, 2009
Pertukaran Pelajar Australia-Indonesia
Program Pertukaran Pelajar SMA
( Oleh Mr Lester Lavinson dan dipandu oleh Dr. Ahmad Sofyan Ruky, 15 Desember 2009, bertempat di SMA Negeri 2 Kota Tangsel)
Penulis: Yuniarti Purnomo - Ketua Program RSBI-SMA Negeri 3 Kota Tangsel
Program pertukaran pelajar SMA Australia - Indonesia diselenggarakan oleh IndoAusty LTD - Indonesia Australia Educational and Cultural Exchange untuk perhimpunan persahabatan Australia Indonesia, di negara bagian Victoria. Kegiatan ini dibawah naungan Australian Indonesian Association-Victoria (AIAV).
Karakteristik
1.a Pertukaran pelajar dalam konteks ini adalah :
- Sejumlah pelajar Australia mengikuti program sebagai siswa tamu di beberapa daerah dan sekolah yang dipilih dan bersedia menampung mereka.
-. Sejumlah pelajar Indonesia mengikuti program , di sekolah-sekolah di negara bagian Victoria, Australia sebagai siswa tamu
-. Status mereka adalah siswa tamu dibatasi selama 6 minggu atau 45 hari.
1.b Lama dan saat pertukaran
- Lama 45 hari kalender
- Pertukaran dilakukan besamaan dg saat liburan kedua negara
- Pelajar Aus berada di Indonesia antara awal des sampai pertengahan Januari tahun berikutnya
-. Pelajar Indonesia akan berada di Aus antara pertengahan Juni sampai akhir Juli
2. Program Pertukaran Pelajar telah berjalan di Jogjakarta selama 2 kali, tetapi dari Indonesia ke Aus belum pernah.
3. Pelajar yang boleh ikut dalam Program ini adalah pelajar kelas X atau XI
4. Tujuan pertukaran pelajar yaitu untuk memberi kesempatan kepada pelajar untuk memehami nilai budaya masing-masing dan membangun
persahabatan dan saling memiliki pengertian.
5. Yang bertanggung jawab di Australia adalah IndoAusty Ltd ( salah satunya Mr. Levinson , sebagai direkturnya) Language Course, untuk daerah
lainnya baru dicari untuk itu Tangerang Selatan siap menerima tamu pelajar dr Australia.
6. Di Jogjakarta Indonesia ditangani oleh "Pandu Indonesian
7. Pemilihan wilayah, yang memiliki budaya khas dan akses ke jalur penerbangan bisa langsung.
8. Pemilihan orang tua angkat dipilih oleh sekolah, harus memiliki anak sebaya dan jenis kelamin sama.
Pembiayaan
1. Orang tua pelajar Australia membayar biaya tiket pesawat antara Indonesia-Australia. Biaya hidup (untuk orang tua angkat) dan biaya untuk kegiatan di sekolah dan wisata-wisata
2. Orang tua pelajar Indonesia membayar biaya tiket pesawat, tes kesehatan, biaya visa, airport tax, keperluan pribadi lainnya (biaya sekolah dan orang tua angkat tidak perlu bayar)
3. Para pelajar harus di jemput di bandara. khusus untuk pelajar australia harus ada yang mengurus waktu transit di Bali( kalau pesawat harus transit di B)ali
Sekilas tentang pertukaran pelajar.
semoga bermanfaat (YP. 2009)
Tuesday, November 24, 2009
LDK di Gunung Bunder Bogor
Kegiatan ini ada pada program kesiswaan dengan Penanggung jawab Bp.H. Sujana, M.Pd dan Bp. Suherman, S. Pd. sebagai Ketua Panitia dibantu oleh Bp. Liman sebagai Pembina OSIS, Kegiatan ini diadakan 30 Oktober- 1 November di Gunung Bunder Bogor. Dengan tema" Mencetak Generasi Muda dengan Jiwa Kepemimpinan yang Kuat dan Berakhlak Mulia". LDK ini adalah kegiatan tahunan yang pasti ada, untuk memilih calon Ketua OSIS yang Baru.Bp. Sujana mengatakan Selamat berjuang Ketua dan Pengurus OSIS yang baru semoga kalian menjadi pemimpin yang bisa menyalurkan aspirasi juga amanah teman teman khususnya , bangsa Indonesia pada umumnya. Dan juga saya ucapkan terima kasih pada ketua OSIS yang lama yang telah andil dalam memajukan dan menjaga nama baik sekolah semoga kalian menjadi orang yang berguna bagi orang tua,nusa dan bangsa(YP,2000)
Monday, November 23, 2009
Kapan sebaiknya berkunjung ke Australia?
Kunjungan sekolah Indonesia ke Australia hendaknya mempertimbangkan beberapa hal. Pertimbangan ini untuk meningkatkan kualitas hubungan serta supaya terciptanya manfaat hubungan di kedua belah pihak. Sekolah Australia memanfaatkan siswa Indonesia yang berkunjung untuk melatih percakapan bahasa Indonesia sebelum mereka ujian Bahasa Indonesia di Australia. Selain dari pada itu, siswa Indonesia dapat ikut belajar di kelas Australia tanpa harus mengganggu jadwal pelajaran mereka.
Pertama, kunjungan dari Indonesia ke Australia hendaknya mempertimbangkan saat terjadinya pelajaran ( saat term berlangsung). Lazimnya siswa Indonesia melakukan shadowing (membayangi) mitra siswa Australia. Artinya bila siswa Australia belajar sesuatu pelajaran maka siswa Indonesia mengikutinya. Berikut pembagian waktu term di Australia:
Term 1 2 February to 3 April
Term 2 20 April to 26 June (12 June will be a student free day)
Term 3 13 July to 18 September
Term 4 5 October to 18 December
Kedua, kunjungan hendaknya memilih waktu yang iklimnya cocok atau mendekati dengan ketahanan fisik orang Indonesia. Ini berarti pada musim Spring, Autumn, atau Summer. Kunjungan saat musim Winter sangat tidak dianjurkan karena dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan. Pada musim dingin suhu udara berkisar antara 4 derajat hingga 11 derajat. Namun bila kondisi memungkinkan saat inilah bisa melihat turunnya salju. Berikut ini perkiraan musim Australia.
Summer: Desember - February
Autumn: Maret – May
Winter: Juni- Agustus
Spring: September-November
Ketiga, kunjungan hendaknya jangan terjadi di bulan puasa, sebaiknya setelah Lebaran. Lagi-lagi hal ini akan membuat peserta kesulitan untuk berpuasa karena tantangan cuaca dan juga karena hal ini membuat rikuh sekolah yang dikunjungi.
Keempat, sangat tidak dianjurkan untuk berkunjung saat bulan Desember karena sekolah akan mengakhiri term dan akan menghadapi libur panjang Natal dan akhir tahun. Terlebih-lebih sekolah Australia biasanya sedang menyelenggarakan ujian akhir term dan pembuatan laporan.
Maka berdasarkan pertimbangan hal itu, kunjungan sekolah Indonesia ke Australia dianjurkan pada bulan Maret ( cuaca sejuk 13 - 24 derajat) musim Autumn, atau pada bulan Oktober,Spring ( cuaca sejuk 13 – 24 derajat). Untuk setiap tahun mohon mempertimbangkan pergeseran waktu Lebaran. Selamat merencanakan kunjungan! (HS,2009)
Friday, November 20, 2009
Menatap Orang Australia dari Dekat

Pikiran Rakyat, Rabu, 18 November 2009
JIKA Anda datang ke Australia, jangan coba-coba membangga-banggakan jabatan yang Anda sandang di Indonesia. Warga Australia tidak akan terkesan dengan status Anda. Ini karena warga Australia menganut egalitarianisme (paham kesederajatan) yang sudah mengakar. Karena pergaulan mereka dengan warga Australia, banyak pemukim Indonesia yang sudah mencerap nilai ini. Maka jika Anda presiden direktur, jenderal, pengusaha besar, profesor, anggota DPR, atau selebriti, Anda tak perlu kecewa jika di negeri kanguru Anda tak dikerubungi orang-orang, atau bahkan tak diperkenalkan resmi dalam pertemuan informal yang kebetulan Anda hadiri. Apalagi jika Anda sekadar anak pejabat, anak pengusaha besar atau anak orang terkenal.
Nilai budaya kolektivistik yang dianut orang Indonesia membuat status istimewa seseorang di Indonesia menular juga kepada semua anggota keluarganya, sehingga seseorang merasa bangga karena orang tuanya atau kerabat dekatnya punya status istimewa. Maka prestasi seseorang di Indonesia sering bersifat bawaan (being), berbeda dengan di Australia dan di banyak negara Barat lainnya yang individualistik yang mengasumsikan bahwa prestasi seseeorang itu diciptakan, diperoleh atau menjadi (becoming), yakni apa yang telah orang itu lakukan dalam kehidupan.
Untuk menunjukkan sikap egaliter, orang Australia sering melakukan sapaan kasar "G’day, mate, how are you?" yang diikuti dengan tepukan di punggung mitranya. Orang non-Australia boleh jadi menganggap tindakan ini menghina atau meremehkan. Kesederajatan yang mereka anut juga tercermin dalam cara orang-orang memanggil atasan mereka, yakni dengan nama pertama, suatu hal yang jarang terjadi di Indonesia. Bahkan, mahasiswa di berbagai universitas di Australia pun lazim memanggil dosen mereka dengan cara itu, misalnya saat mahasiswa menyapa dosennya, "Hi, Peter, how is it going?" Mahasiswa tak perlu membungkuk, apalagi mencium tangan profesornya, seperti yang sering terjadi di beberapa universitas di Indonesia. Begitulah ketika tempo hari saya pertama kali berjumpa dengan Chris Nash, seorang profesor Jurnalistik Universitas Monash di Kampus Caulfield, yang mengenakan anting di telinga kirinya, kami pun langsung menyapa satu sama lain dengan nama pertama.
Sebagai peminat komunikasi lintas budaya, saya lihat cara orang Australia berkomunikasi agak berbeda dengan pembicara Inggris British ataupun pembicara Inggris Amerika. Bahasa Inggris Australia jelas lebih mirip dengan bahasa Inggris British daripada dengan bahasa Inggris Amerika, karena Australia adalah negara persemakmuran Inggris (Britania Raya). Dapat dikatakan bahasa Inggris British adalah cikal bakal bahasa Inggris Australia, karena nenek moyang orang Australia berkulit putih umumnya datang dari Britania Raya. Akan tetapi, selain terdapat kata-kata khas Inggris Australia, pengucapan Inggris Australia juga lain. Mereka, terutama yang kurang terdidik, mengucapkan kata today sepeti to die, sehingga kita akan kaget jika mendengar seorang Australia berkata, "I am going to the hospital to today (yang kedengarannya to die)."
Meskipun dalam banyak segi, bahasa Inggris Australia mirip dengan Inggris British, ekspresi khas Australia juga berhamburan. Frase dan kata-kata berikut lazim terdengar: no worries (jangan khawatir), mate (teman pria); rubbish (sampah); biscuits (kue), dan chemist (apotik). Orang Australia juga gemar memendekkan kata-kata, misalnya university menjadi uni, kindergarten menjadi kindi, television menjadi teli, dan beautiful menjadi beaut. Pengumuman di tempat publik bersifat langsung dan singkat, tidak berbasa-basi atau berbunga-bunga, seperti di Inggris. Di kereta api, misalnya terdapat pernyataan, "No smoking," (Dilarang merokok) "No Litering" (Dilarang membuang sampah), dan "You must have a valid ticket to travel on this train" (Anda harus punya tiket yang berlaku untuk naik kereta ini). Bandingkan dengan pengumuman di Inggris, misalnya "We regret that in the interest of hygine dogs are not allowed on these premises" (Kami menyesal bahwa demi kesehatan, anjing tidak diizinkan di tempat ini), yang bisa dipendekkan: "Video controlled" ("Diawasi video"). Kelugasan orang Australia juga terkadang vulgar. Misalnya di Huntingdale, ada sebuah baliho besar yang bertuliskan (maaf), "Making Love? Do it longer! Call or sms ’Try’ 1800711711."
Dapat disimpulkan,orang Australia sangat lugas. Sikap ini dapat membuat orang asing, termasuk orang Amerika sekalipun, merasa diserang, misalnya dengan ucapan mereka "You don’t know what you’re talking about". Di Victoria Market di Melbourne, di sebuah kafe saya menyaksikan seorang perempuan bule yang mengembalikan roti lapis yang baru dibelinya, tampaknya karena rasanya kurang enak. Ia berteriak, "It is disgusting!". Uangnya dikembalikan oleh si bos perempuan. Suaminya yang ikut melayani pembeli berteriak, "Don’t ever come back!" Luar biasa, ini suatu kejadian yang seumur hidup saya tak pernah saya saksikan di Indonesia. Saya yang memesan fish ’n chips seharga 15 dolar Australia (sekitar Rp. 130.000,00) tak dapat membayangkan bahwa saya akan mengembalikan makanan itu karena rasanya tidak sesuai dengan selera, baik di Australia, apalagi di Indonesia. Pelajaran lain yang dapat diambil dari kejadian itu adalah betapa hak konsumen begitu besar di negeri ini. Dalam banyak kasus, konsumen boleh mengembalikan barang bukan makanan yang sudah dibeli asalkan belum dipakai.
Bagi orang berkomunikasi konteks tinggi (penuh dengan basa-basi, tak langsung, untuk menjaga harmoni) seperti orang Indonesia dan orang Jepang, orang Australia yang berbicara linier, langsung, lugas, dan faktual seperti ini bisa dianggap sebagai orang yang tidak punya perasaan. Dalam sebuah literatur dilukiskan, seorang manajer Jepang mengunjungi Australia dalam bisnis. Ia meminta seorang sejawat Australia menjelaskan suatu prosedur baru kepadanya. Orang Australia mengatakannya dengan cepat, persis, dan dari awal, bagaimana prosedur itu bekerja, menunjukkan beberapa problem yang mungkin, dan bertanya bila ia punya pertanyaan. Manajer Jepang itu merasa bahwa ia diperlakukan seperti anak kecil, dan bahwa orang Australia itu tidak punya pertimbangan atas perasaannya.
Menarik bahwa meskipun orang-orang Australia tidak banyak berbasa-basi, mulut mereka kurang terbuka saat berbicara dibandingkan dengan orang Amerika. Sebuah anekdot menyebutkan bahwa hal ini berkaitan dengan fakta bahwa beberapa abad lalu nenek moyang mereka datang ke Australia sebagai tahanan, bukan sebagai orang merdeka, sehingga mereka tidak bebas bicara dan sering menutup mulut. Cara bicara suatu bangsa atau suatu suku boleh jadi dipengaruhi faktor-faktor historis, kultural, dan geografis. Misalnya, konon orang Batak berbicara keras karena dulu nenek moyang mereka tinggal berjauhan di gunung dan lembah; orang Riau Kepulauan berbicara serupa karena suara mereka harus mengatasi suara ombak dan angin. Sementara itu, orang Padang berbicara keras karena mereka pemakan cabai. Ada pun orang Arab berbicara keras, karena lingkungan mereka yang gersang. Wallahu’alam. (HS,2009)